← Kembali ke blog

Tentang Mengambil Tanggung Jawab

Artikel ini diterjemahkan secara otomatis dari bahasa Jepang oleh AI (Claude). Mungkin terdapat kesalahan. Baca artikel asli dalam bahasa Jepang.

Tentang Mengambil Tanggung Jawab

Memperjelas "apa yang ingin dilakukan" atau hasrat pribadi, serta "memilih sendiri", tampaknya dipandang sebagai hal yang sangat penting di dunia saat ini. Dalam kerangka Will (kehendak), Can (kemampuan), dan Must (keharusan) yang kerap digunakan dalam pembicaraan karier, Will yang bersifat spontan sangat diprioritaskan.

Menanggapi hal ini, saya kerap menyampaikan bahwa ada pula cara pandang yang dimulai dari Must.

Alasan mengapa Will begitu diagungkan, menurut saya, salah satunya adalah percepatan individualisasi dalam berbagai aspek kehidupan sejak dekade 1990-an.

Mari kita ambil contoh karier yang disebutkan tadi. Dahulu, perusahaan yang menentukan penempatan kerja dan rotasi jabatan; namun, seiring runtuhnya asumsi kerja seumur hidup, karier beralih menjadi sesuatu yang harus dirancang sendiri oleh individu. Yang kemudian dituntut adalah pengambilan keputusan sebagai seorang individu; baik dalam dunia pendidikan maupun saat mencari kerja, orang-orang senantiasa ditanya, "Apa yang ingin kamu lakukan?"

Tentu saja hal ini memiliki sisi positif, yaitu memperluas kebebasan individu. Di sisi lain, fenomena ini juga dapat dipandang sebagai pergeseran yang membebankan risiko—yang sebelumnya ditanggung oleh perusahaan dan masyarakat—ke pundak individu. Boleh dikatakan, hal-hal yang dahulu kita pikul bersama sebagai sebuah "kita", kini dibagi-bagikan kepada masing-masing "aku".

Kesimpulan bahwa "kamu bertanggung jawab atas dirimu sendiri" hanya dapat tegak dengan landasan premis "karena kamu sendiri yang memilihnya". Begitu menjawab pertanyaan "apa yang ingin kamu lakukan (apa yang kamu pilih)?", kalimat yang menanti di ujung jalan adalah: "Karena kamu yang memilihnya, maka tanggung jawab atas hasilnya ada padamu." Jika logika ini berjalan, perusahaan dan masyarakat dapat melepaskan beban dan melimpahkan tanggung jawab kepada individu. Populernya istilah "tanggung jawab diri" (jiko sekinin) di Jepang pada tahun 2000-an, menurut saya, adalah salah satu wujud nyata dari kecenderungan ini.

Seiring meluasnya ruang pilihan, logika bahwa individu harus menanggung risiko dan tanggung jawab yang menyertainya memang terdengar masuk akal, dan sampai batas tertentu mungkin terasa adil. Namun, jika kita sejenak berhenti dan merenung, pertanyaan pertama yang muncul adalah: "Apakah itu benar-benar sebuah pilihan?" Kekhawatiran lain adalah, ketika pilihan dan tanggung jawab saling bertaut, akan sangat mudah lahir perasaan sebaliknya: "Saya tidak punya tanggung jawab atas hal-hal yang tidak saya pilih, atau hal-hal yang bukan kesalahan saya."

Jika perasaan semacam ini meluas, masyarakat akan dipenuhi oleh deretan individu yang membatasi wilayahnya hanya pada hal-hal yang mereka pilih sendiri. Di sana, masalah-masalah yang tidak dipilih oleh siapa pun akhirnya tidak menjadi milik siapa-siapa.

Saat merenungkan hal-hal tersebut beberapa waktu lalu, topik tentang "mengambil tanggung jawab dan menanggungnya" (hikiukeru) muncul dalam obrolan dengan seorang mantan kolega. Dalam buku yang saya baca baru-baru ini pun muncul gagasan tentang "menanggung sejarah". Saya merasa ungkapan ini sangat pas untuk menggambarkan bagaimana kita berhubungan dengan hal-hal yang tidak dapat dikatakan lahir dari Will atau pilihan sendiri, dan oleh karenanya saya ingin menuangkan pemikiran tentang "mengambil tanggung jawab" ini secara tertulis.

Hal-Hal yang Datang Tanpa Kita Pilih

Dalam menjalani hidup, ada hal-hal yang datang tanpa pernah kita pilih. Tugas merepotkan dilemparkan ke meja kita, atau kita mendapati diri harus menuntaskan kekacauan yang sebenarnya tak perlu kita sentuh. Sejarah negeri tempat kita dilahirkan, atau persoalan seperti perubahan iklim, juga demikian adanya. Jika kita menuruti logika yang menautkan pilihan dengan tanggung jawab, kita bisa saja menepis hal-hal tersebut dengan dalih, "Bukan saya yang memilih ini." Namun, apakah sikap seperti itu sungguh dapat dibenarkan?

Buku karya Koichiro Kokubun yang terbit pada dekade 2010-an, Dunia Suara Tengah (Chudotai no Sekai), dibaca luas barangkali karena kegelisahan terhadap logika tersebut dirasakan bersama. Kokubun menyebut bahasa yang memandang peristiwa secara kaku dalam bingkai "melakukan" atau "dikenai"—yang selalu mencecar dari kehendak siapa tindakan itu bermula—sebagai "bahasa interogatif". Bahasa interogatif adalah bahasa yang menuntut asal-usul suatu peristiwa pada kehendak spontan dari seorang "aku". Pertanyaan "apa yang ingin kamu lakukan (Will)?" kemungkinan besar adalah salah satunya.

Di sisi lain, jika meminjam sudut pandang "suara tengah" (middle voice) di mana subjek berada di dalam proses yang berlangsung, peristiwa hadir di suatu tempat atau menerima peran bukanlah sesuatu yang kita perbuat, bukan pula sesuatu yang diperbuat terhadap kita. Ia bukan aktif, bukan pula pasif; melainkan keadaan di antara gradasi keduanya. Kita berada di dalam pusaran peristiwa tersebut, dan kerap kali ada orang lain pula di sana.

Lantas, bagaimana orang yang berada di dalam harus bersikap menghadapi peristiwa itu? Jika suara tengah adalah cara pandang yang melukiskan keadaan "berada di dalam", saya merasa kata "mengambil tanggung jawab" dapat dipakai untuk mengungkapkan bagaimana orang yang berada di dalam itu merespons dari posisinya tersebut.

Dalam kasus saya pribadi, hal-hal yang datang tanpa dipilih terkadang berwujud permintaan pekerjaan yang melebihi kapasitas diri. Permintaan semacam itu datang karena akumulasi keberuntungan yang menempatkan saya pada posisi saat ini. Setiap kali hal itu terjadi, saya tak kuasa berpikir: "Pasti ada banyak orang yang jauh lebih paham dan pintar daripada saya," atau "Pantaskah orang seperti saya menyanggupinya?" Sejujurnya, ada rasa bersalah mirip sindrom penipu (imposter syndrome) yang menyeruak (walaupun di usia sekarang, semestinya saya sudah melewati perasaan-perasaan seperti itu). Kendati demikian, saat membayangkan bahwa jika saya menolak peran tersebut mungkin jatuh ke tangan orang yang tidak tepat, saya pun memilih untuk menyanggupinya.

Di balik keengganan menyanggupi sesuatu sembari memendam rasa bersalah ini, saya rasa ada pemikiran bahwa kendati bukan salah saya, karena kebetulan saya berada di sana, ada tanggung jawab yang terpikul, dan itulah sebabnya saya menyanggupinya.

Hanya saja, ungkapan "memiliki tanggung jawab padahal bukan kesalahannya" tidak sejalan dengan logika pembuka bahwa "tanggung jawab ada karena kamu yang memilih". Oleh sebab itu, mari kita coba membedah kata "tanggung jawab" menjadi dua sisi.

Tanggung Jawab sebagai Respons

Saya memandang tanggung jawab setidaknya memiliki dua aspek. Pertama, tanggung jawab untuk dimintai pertanggungjawaban atas apa yang telah atau tidak dilakukan beserta akibat-akibatnya. Logika "tanggung jawab diri" bertumpu pada aspek ini. Kedua, tanggung jawab untuk menanggapi panggilan orang lain atau persoalan di depan mata. Di sini, saya menyebut yang pertama sebagai "tanggung jawab atas tindakan", dan yang kedua sebagai "tanggung jawab sebagai respons" (response-ability). Kata bahasa Inggris responsibility, sama seperti kata response, berakar dari bahasa Latin respondēre (menjawab, merespons).

Katakanlah ada seseorang yang pingsan di jalan raya. Jatuhnya orang itu bukan kesalahan pejalan kaki seperti saya. Kendati demikian, jika kebetulan berada di sana, setidaknya saya bisa menelepon ambulans. Bahkan dalam situasi yang tidak pernah kita pilih, kita tetap dapat memberikan respons (response).

Sejarah pun serupa. Presiden Jerman Barat, Richard von Weizsäcker, dalam pidato peringatan 40 tahun berakhirnya perang pada tahun 1985 yang bertajuk A Forty Years' Wilderness, menyatakan bahwa mereka yang belum lahir kala itu tidak dapat mengakui kesalahan atas perbuatan yang tidak mereka lakukan, lalu melanjutkan:

Semua dari kita, entah bersalah atau tidak, tua maupun muda, harus menerima masa lalu. Kita semua terikat oleh dampak-dampaknya dan dibebani tanggung jawab atasnya.

Di sini, rasa bersalah dan tanggung jawab untuk menerima masa lalu tampak dipisahkan dengan tegas. Rasa bersalah terikat pada tindakan masing-masing individu, sedangkan tanggung jawab menerima masa lalu dituturkan dengan "kita semua" sebagai subjeknya. Bila kita tarik ke konteks diri kita sendiri: generasi yang lahir setelah tahun 1945 yang tak dapat disebut sebagai pihak yang terlibat langsung dalam perang, bila kebetulan lahir di Jerman atau Jepang dan menikmati kemakmuran negara maju, tetap memikul tanggung jawab untuk menerima masa lalu tersebut.

Sebaliknya, mematok sekat kaku antara sebelum dan sesudah perang dengan menyatakan "karena saya lahir setelah perang, perang itu tak ada kaitannya dengan saya" merupakan pernyataan sikap bahwa seseorang enggan memikul sejarah bangsanya. Ini adalah bentuk penerapan rasa "tidak ada tanggung jawab atas apa yang tidak dipilih" ke dalam sejarah, dan bermakna mencoret diri sendiri dari kesinambungan "kita" yang mengalir dari masa lalu (meski cara pandang individualistis semacam itu mungkin sah-sah saja ada).

Perubahan iklim juga merupakan persoalan yang tidak dapat ditimpakan sepenuhnya pada kesalahan satu orang saja. Gas rumah kaca yang dilepaskan saat ini adalah buah dari tindakan kita bersama, dan menjadi sasaran tanggung jawab atas tindakan. Namun, sistem sosial dan tatanan masyarakat yang terus melepaskan gas rumah kaca itu telah dipilih oleh generasi yang lahir sebelum kita. Kita pun tidak pernah meminta untuk dilahirkan ke dalam masyarakat yang seperti ini.

Maka kita bisa saja berdalih tidak memiliki tanggung jawab dan terus melanggengkan kondisi saat ini. Akan tetapi, setidaknya persoalan ini masih bisa kita ubah mulai dari sekarang. Di sisi lain, masalah ini tidak dapat diselesaikan hanya melalui respons seorang diri. Jika demikian, merengkuh sejarah dan masalah tersebut, lalu berikhtiar menyelesaikannya bersama orang lain, merupakan salah satu cara bersikap yang sangat bermakna.

Singkatnya, jika tanggung jawab atas tindakan menanyai tiap-tiap orang "siapa memilih apa di masa lalu", maka tanggung jawab sebagai respons menanyakan "bagaimana orang-orang yang hadir di sini saat ini akan merespons mulai sekarang".

Merespons dengan Apa yang Telah Diterima

Namun demikian, tidak semua orang dapat memikul tanggung jawab dengan kapasitas yang sama. Mereka yang memiliki kapasitas lebih besar tentu akan memikul beban yang lebih banyak. Bukan berlandaskan status sosial seperti asas noblesse oblige, melainkan ditimbang berdasarkan seberapa besar daya respons yang dimiliki seseorang.

Dalam kehidupan manusia, setiap orang memiliki kerapuhannya masing-masing dan tak ada manusia yang sempurna. Semua orang memendam luka atau kelemahan tertentu, tetapi secara relatif, ada orang yang lukanya lebih ringan dan ada pula yang lebih tangguh. Ada masa-masa yang penuh kesibukan, ada pula masa-masa yang sehat bugar. Luka dan kelemahan bukanlah persoalan biner nol atau satu. Terlebih lagi, terlahir di Jepang saja sudah menempatkan seseorang di golongan yang beruntung dalam skala global. Di antara mereka, orang yang tumbuh dalam keluarga berkecukupan, mengenyam pendidikan bermutu, dan berada pada posisi yang lazim disebut elite, hal itu berlaku lebih nyata lagi.

Di sini, kita kembali pada pertanyaan yang sempat ditangguhkan di awal: "Apakah itu benar-benar sebuah pilihan?" Usaha pribadi dari yang bersangkutan tentu ada. Namun, dilahirkan ke dalam lingkungan yang memungkinkan seseorang berikhtiar, atau lingkungan yang menumbuhkan "apa yang ingin dilakukan", bukanlah sesuatu yang diperoleh karena pilihan sendiri. Kemampuan untuk memiliki Will secara spontan pun sesungguhnya berdiri di atas anugerah yang telah diterima sebelumnya.

Dan sebagian besar dari apa yang kita terima berasal dari luar diri kita: keluarga, generasi pendahulu, pendidikan, serta tatanan sosial. Sebelumnya saya menyebut bahwa menerima manfaat adalah alasan mengapa generasi pascaperang menanggung masa lalu. Besarnya kemampuan merespons juga terhubung langsung dengan besarnya hal-hal yang telah diterima (alasan saya menyanggupi tugas yang melampaui kemampuan diri juga karena akumulasi keberuntungan yang menempatkan saya pada posisi istimewa saat ini). Karena itu, saya rasa orang-orang yang telah menerima banyak hal boleh jadi justru perlu secara aktif merengkuh tantangan-tantangan yang kebetulan mereka temui, ketimbang hanya terpaku pada "apa yang ingin dilakukan".

Cara merespons pun tidak hanya satu. Selain "respons kuat" di mana seseorang mengambil kendali utama dan menanggung hasil akhirnya, ada pula "respons lemah": menyuarakan apa yang disadari, menyumbangkan sedikit waktu atau dana, atau meneruskannya kepada orang yang mampu menanganinya. Menelepon ambulans untuk orang yang pingsan adalah salah satu contoh respons lemah. Sekadar mengulurkan sedikit bantuan pun hanya bisa dilakukan oleh segelintir orang yang berada pada posisi tersebut, atau mereka yang kebetulan mendapati kesempatan itu. Jika demikian, melakukan apa yang bisa dilakukan saat kesempatan itu datang, saya rasa itu pun sudah lebih dari cukup.

Bagaimana Merespons Apa yang Datang

Kita tidak dapat memilih apa yang akan datang dalam hidup. Kendati demikian, bagaimana kita merespons peristiwa yang datang itu, sampai batas tertentu dapat kita pilih. Kokubun membedakan antara "kehendak" sebagai awal mula murni yang terputus dari masa lalu, dan "pilihan" yang senantiasa dilakukan di dalam aliran dari masa lalu.

Bahasa interogatif yang menanyakan "apa yang ingin kamu lakukan?" barangkali memperlakukan pilihan sebagai kehendak kuat kategori pertama. Namun kita pun dapat menunjukkan cara keberadaan diri dengan memilih bagaimana merespons hal-hal yang datang menghampiri kita.

Urutan ini berkebalikan dengan logika "tanggung jawab diri" yang dibahas di awal. Dalam logika tanggung jawab diri, pilihan ada di urutan pertama, dan setelahnya barulah tanggung jawab dituntut sebagai akibatnya. Dalam cara pandang mengambil tanggung jawab, peristiwa datang terlebih dahulu, dari sana lahirlah tanggung jawab untuk merespons, dan di dalam proses itulah kita memilih bagaimana hendak merespons. Dipikirkan demikian, memilih dan mengambil tanggung jawab tidaklah saling bertentangan. Sebab mengambil tanggung jawab itu sendiri merupakan sebuah bentuk pilihan.

Hanya saja, itu adalah pilihan dalam pengertian yang dimaksudkan Kokubun, bukan kehendak sebagai awal mula yang murni. Mengambil tanggung jawab tidak dapat disebut sepenuhnya aktif, dalam arti bukan kita yang memulainya sendiri. Namun ia juga tidak dapat disebut pasif belaka, dalam arti kita tidak sekadar dipaksa menerimanya. Meminjam kata-kata dalam suara tengah: orang yang berada di dalam pusaran peristiwa sedang merespons di dalam proses yang tengah berjalan tersebut.

Setelah "Kita" yang Alami Menghilang

Di awal tulisan, saya mengemukakan bahwa apabila individu-individu yang hanya membatasi ruang lingkupnya pada apa yang mereka pilih sendiri berjejer, maka persoalan yang tidak dipilih oleh siapa pun akan sangat mudah menjadi yatim piatu tanpa pemilik. Kalau begitu, dari manakah lahirnya "kita" yang akan merengkuh dan memikul persoalan-persoalan tersebut?

Di masa lampau, manusia tidak dapat bertahan hidup sendirian. Mengumpulkan makanan, mengasuh anak, serta bersiap menghadapi bencana dan penyakit mustahil dilakukan sendiri; hidup tanpa bersandar pada kelompok seperti keluarga, desa, atau perusahaan amatlah sulit. Oleh sebab itu, kelompok terbentuk secara alami tanpa perlu ada yang sengaja merancangnya. Pada masa itu, "kita" bukanlah sesuatu yang dipilih atau disanggupi; ia adalah prasyarat untuk bertahan hidup.

Individualisasi sejak dekade 1990-an yang disinggung di awal, menurut saya, adalah proses di mana tatanan ini mulai berganti. Tentu saja, ini bukan berarti manusia kini dapat hidup tanpa orang lain; hingga saat ini pun kehidupan kita terus ditopang oleh kerja keras banyak orang. Yang berubah adalah ketergantungan itu kini menjadi anonim melalui pasar dan layanan publik, sehingga menjadi kasatmata.

Ketika orang dapat hidup tanpa perlu menjalin relasi tatap muka, kebutuhan untuk terikat dalam suatu kelompok pun memudar. Itu adalah sebuah pembebasan dari "kita" yang dipaksakan, yang menuntut kepatuhan semata-mata atas dasar keanggotaan. Namun di saat yang sama, apa-apa yang dahulunya dipikul bersama oleh "kita", dialihkan menjadi beban masing-masing "aku".

Kini ketika "kita" tak lagi terbentuk secara alami, jika tak ada yang berupaya membangunnya, maka "kita" akan sulit terwujud. Kendati saat ini bermunculan berbagai ikhtiar untuk membentuk komunitas secara aktif, saya memandang jalannya tidak hanya itu—melalui sikap "mengambil tanggung jawab" atas hal-hal yang tidak dapat dikatakan lahir dari pilihan sendiri, terbuka peluang untuk merekonstruksi "kita" yang baru.

Boleh jadi itu bermakna merajut kembali ketergantungan pada sesama yang sempat tak terlihat menjadi sebuah relasi yang nyata. Pidato Weizsäcker pun dapat dimaknai sebagai ajakan agar kita menjadi bagian dari "kita" dengan jalan merengkuh masa lalu. Ini juga merupakan salah satu wujud dari "kita" tersebut.

Keterlibatan yang Bukan Aktif Bukan Pasif

Kendati demikian, tidak semua orang sanggup secara aktif memikul hal-hal yang tidak mereka pilih. Sebagaimana telah disinggung di atas, kapasitas memikul tanggung jawab berbeda pada setiap orang. Menuntut orang yang pontang-panting mencukupi kebutuhan sehari-hari dengan seruan "kamu harus aktif mengambil tanggung jawab demi membangun 'kita'" hanyalah membalikkan logika tanggung jawab diri dan memaksakannya kembali.

Petunjuk yang dapat kita pegang di sini adalah sifat "bukan aktif bukan pasif" dari sikap mengambil tanggung jawab yang telah kita bahas tadi. Misalnya, tergerak membantu hanya karena kebetulan berada di tempat kejadian, ikut terlibat sedikit karena tak tega menolak permohonan, atau terus memantau situasi karena merasa cemas. Keterlibatan semacam ini tidak bermula dari kehendak yang membara, tetapi juga bukan semata-mata paksaan. Sebagian besar respons lemah yang disebutkan tadi mengambil bentuk semacam ini.

Tentu saja, mengingat pekerjaan kerap menumpuk pada orang yang sulit berkata tidak, keterlibatan di ruang antara ini baru dapat berjalan bila sikap untuk "tidak mengambil tanggung jawab" juga diakui sebagai salah satu cara merespons yang sah. Terlebih lagi, tak seorang pun mampu merespons segala hal. Sejauh mana seseorang terlibat akan bergantung pada seberapa dekat ia berada, apa yang telah ia terima, dan seberapa besar daya respons yang dimilikinya; sangatlah wajar dan baik bila hal itu berlainan bagi tiap-tiap orang.

Mengingat kembali, kecanggungan yang saya rasakan saat menyanggupi tugas yang melampaui kemampuan diri barangkali persis berada pada perasaan di antara tersebut: sesuatu yang tak sepenuhnya dapat saya sebut sebagai pilihan atas kehendak sendiri, tetapi juga bukan semata-mata paksaan.

Agar Tidak Membebankan Kembali kepada Individu

Terhadap uraian sejauh ini, mungkin ada kritik yang menyatakan bahwa argumen ini mengulang kembali masalah yang dipersoalkan di awal. Sebab, setelah mengkritik pengalihan beban perusahaan dan masyarakat ke pundak individu, bila jalan keluarnya justru dicarikan pada kerelaan individu untuk mengambil tanggung jawab, bukankah itu berarti kembali membebankan persoalan sosial kepada individu?

Menjawab hal ini, saya ingin membedakan antara "mengambil tanggung jawab" dengan "terus memikulnya seorang diri". Kerelaan individu untuk mengambil tanggung jawab adalah titik tolak, bukan tujuan akhir. Saat mendapati orang pingsan di samping kita, yang kita lakukan bukanlah mengobatinya sendiri, melainkan menelepon ambulans. Justru karena sistem tanggap darurat telah tersedia, respons yang dituntut dari orang yang kebetulan berada di sana bisa tetap kecil. Dengan cara yang sama, persoalan yang telah diambil tanggung jawabnya dapat sedapat mungkin dioperkan ke dalam bentuk yang dapat dipikul oleh "kita"—yakni ke dalam organisasi, pranata, dan kebiasaan. Respons lemah seperti menyuarakan apa yang disadari atau meneruskannya ke tangan orang yang mampu menangani memiliki makna penting justru karena dari sanalah persoalan dialirkan ke dalam suatu mekanisme.

Secara terbalik, ini berarti kita tetap berhak menuntut masyarakat dan perusahaan untuk memikul apa yang semestinya mereka pikul. Kesediaan individu mengambil tanggung jawab bukanlah pengganti pranata, melainkan pemantik untuk menata ulang pranata tersebut. Dan jika orang yang mengambil tanggung jawab itu terus mendekapnya sendirian, maka "kita" belumlah terbentuk; beban itu hanyalah berpindah ke pundak orang tersebut. Berhasil tidaknya pengambilan tanggung jawab, hemat saya, lebih tepat diukur bukan dari seberapa berat beban yang dipikul sendiri, melainkan dari seberapa jauh kita mampu mengubahnya menjadi bentuk yang dapat dibagi bersama orang lain.

Memilih dan Mengambil Tanggung Jawab

Kendati mereka yang dapat mengambil tanggung jawab dengan kehendak baja hanyalah segelintir orang, mereka yang terlibat dengan cara yang bukan aktif bukan pasif niscaya jauh lebih banyak jumlahnya. Di masa kini, saat "kita" tak lagi terbentuk secara alami dan tak semua orang sanggup menciptakan "kita" dengan kehendak yang membara, saya meyakini bahwa melalui penumpukan keterlibatan di ruang antara inilah—yang dialirkan ke dalam mekanisme bersama—sebuah "kita" akan dapat terbangun kembali.

Dengan kata lain, mengambil tanggung jawab atas hal-hal yang tidak dipilih melalui cara yang bukan aktif bukan pasif itulah yang akan menyusun bukan sekadar "aku", melainkan "kita".

Kebebasan untuk hidup sebagai individu tentu patut dipertahankan. Di atas dasar itu, tidak hanya menjadikan Will sebagai titik berangkat, melainkan juga mengakui cara mengambil tanggung jawab semacam ini, manusia dapat memiliki titik temu dengan masyarakat dan sejarah, serta bersama-sama orang lain menjelma menjadi sebuah "kita".